MEMBUAT POLA BUSANA DENGAN TEKNIK KONSTRUKSI

Gambar
              MENGGAMBAR POLA DASAR A. Pengetahuan yang Diperlukan dalam Menggambar Pola Dasar 1. Penjelasan mengenai alat gambar pola dan tempat kerja           Dalam proses membuat pola busana dengan teknik konstruksi diperlukan  beberapa alat menggambar pola serta tempat kerja yang akan digunakan.  berikut merupakan peralatan yang dibutuhkan dalam menggambar pola : a. Pensil Hitam Pensil berfungsi untuk menggambar pola kecil saat proses merancang bahan. b. Penghapus Penghapus berfungsi untuk mengoreksi apabila terjadi kesalahan dalam  pembuatan pola c. Pulpen Hitam/Merah/Biru Pulpen ini berfungs untuk mewarnai pola-pola sesuai dengan bagian  bagiannya. d. Buku Kostum/Pola e. Skala Skala adalah alat pengukur yang dibuat dari kertas yang cukup tebal  tetapi lentur (misalnya karton manila). Skala digunakan untuk menggambar  pola yang diperkecil. Biasanya skala dibuat dalam ukura...

sejarah seni rupa

 
SENI RUPA INDONESIA
Latar Belakang
Yang dimaksud dengan istilah Seni Rupa, Sesungguhnya jangkauannya cukup luas. Hal itu meliputi seni lukis, seni patung, seni kerajinan, seni grafik,seni ruang, dan sebagainya. Pada umumnya orang sependapat jika dikatakan bahwa seni rupa modern mulai, jika para seniman  penciptanya menyadari otonominya sebagai seniman termasuk didalamnya kesadaran akan diri pribadi sebagai pencipta. Dan ini ditantai oleh Saleh Syarif Bustaman yang lahir sekitar tahun 1807, apakah benar seperti itu karena, pada masa prasejarah  melukis di panil-panil, pintu, maupun didalam dinding gua, oleh karena itu dengan adanya pembuatan kliping ini penulis berusaha memaparkan periodesasi .
1.  Masa Perintisan
Raden Saleh Syarif Bustaman  ( Terbaya, 1814 -1880 ), putra keluarga bangsawan pribumi mampu melukis gaya/cara barat (alat, media dan teknik) yang natural dan romantis. Mendapat bimbingan dari pelukis Belgia Antonio Payen,pelukis Belanda A. Schelfhouf dan C. Kruseman di Den Haag. Berkeliling dan pernah tinggal di Negara- Negara Eropa.
Ciri-ciri karya lukisan Raden Saleh  :
·         Bergaya natural dan romantisme
·         Kuat dalam melukis potret dan binatang
·         Pengaruh romantisme Eropa terutama dari Delacroix.
·         Pengamatan yang sangat baik pada alam maupun binatang.
Karya Raden Saleh
·         Hutan terbkar
·          Perkelahian antara hidup dan mati
·         Pangeran Diponegoro
·         Berburu Banteng di Jawa
·         Potret para Bangsawan

2 .  Masa Indonesia Jelita (Indie Mooi)
Selanjutnya muncul pelukis-pelukis muda yang memiliki konsep   berbeda dengan masa perintisan, yaitu melukis keindahan dan  keelokan alam Indonesia. Keadaan ini ditandai pula dengan datangnya  para pelukis luar/barat atau sebagian ada yang menetap dan melukis keindahan alam Indonesia.
Pelukis Indonesia Molek :
·         Abdullah  Suriosubroto (1878-1941)
·         Mas Pirngadi (1875-1936)
·          Wakidi
·         Basuki Abdullah 
·         Henk Ngantung, Lee Man Fong (dll)
·         Rudolf Bonnet (Bld), Walter Spies (Bel), Romuldo Locatelli, Lee
·         Mayer (Jerman) dan W.G. Hofker.
Ciri-ciri lukisan :
·         Pengambilan obyek alam yang indah
·         Tidak mencerminkan nilai-nilai jiwa merdeka
·         Kemahiran teknik melukis tidak dibarengi dengan penonjolan nilai spirituil
·         Menonjolkan nada erotis dalam melukiskan manusia.

RASTIKA SENIMAN LUKIS KACA
Seni lukis kaca merupakan seni lukis yang sangat berbeda dengan seni lukis yang lain. Seni lukis kaca ini tergolong unik sebab dalam proses pembuatan karya yang dilukis secara terbalik. Dalam karya lukis kaca biasanya menampilkan ragam hias motif mega mendung dan wadasan yang biasanya dikenal sebagai motif batik Cirebon, dengan gradasi warna yang sangat harmonis dan bernuansa dekoratif. Seni lukis kaca berkembang dan dikenal sebagai produk budaya yang sarat dengan kebudayaan khas Indonesia khususnya Kota Cirebon.
Seni lukis kaca pernah menggejala di Eropa pada abad ke 17. Sedangkan di negara barat lukisan kaca menyebar sampai kedaratan timur, bahkan sampai ke Asia Tenggara. Diantara seni lukis kaca dari Jepang dan Cina yang lebih meninjol adalah ciri datar, ciri ini yang akhirnya berkembang di Indonesia. (Pekan Pariwisata Cirebon 1991:17).
Pada tahun 1980-an banyak bermunculan pelukis kaca, salah satunya adalah Rastika. Rastika adalah salah satu pelukis kaca yang belajar secara otodidak. Di masa itu para seniman lukis kaca mengacu pada karya-karya Rastika walaupun karya-karya Rastika lebih rumit dan membutuhkan kecermatan dalam pembuatanya.
Keunggulan Rastika terletak pada kemahirannya untuk menempatkan objek lukisannya demikian anggun dalam batasan bingkai lukisan. Ia mampu menggambarkan bentuk-bentuk yang luwes, elegan dengan detail-detail yang rumit, kaya, dan indah. Warna-warna pilihannya, memancarkan pula suatu kharisma yang memberikan kesan tenang, tapi ada kalanya juga dapat menggelora. Komposisi warna yang diambil mengacu pada harmoni warna.
 
2.1.1.   Sejarah Seni lukis Kaca
Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan berupa Lukisan Kaca Wayang. Pengaruh Islam yang disebarkan oleh para wali juga menjadi ciri khas dari lukisan kaca Cirebon. Bahkan setelah pengaruh China, gambar-gambar yang dihasilkan seniman tradisional selalu berhubungan dengan Islam seperti gambar kabah, masjid dan kaligrafi berisi ayat-ayat Alquran atau Hadis. 
Adapun pengaruh cerita wayang berasal dari pertunjukan wayang yang diperagakan para wali untuk menyebarkan agama Islam. Kuatnya kepercayaan tokoh wayang yang baik, membuat para pengrajin lukisan kaca selalu menampilkan tokoh seperti Kresna, Arjuna, Rama, Lesmana, dan lain-lain. Sejak itu lukisan kaca dikenal orang sebagai media dakwah dengan munculnya Lukisan Kaca Kaligrafi Islam, di mana pada setiap lukisan kaca akan banyak ditemui tulisan yang berasal dari cuplikan Ayat Al Qur’an dan Hadist.(Adeng, dkk 1998:160).
Semakin lama Lukisan Kaca Cirebon semakin berkembang dengan keragaman objek yang ditampilkan, objek Wayang dan objek Batikan makin mewarnai desain Lukisan Kaca Cirebon. Pada abad ke-19, lukisan kaca Cirebon cenderung mengambil tema wayang, kereta singa barong, paksi naga liman, pola mega mendung, kaligrafi Islam, gambar masjid, buroq, dan sejenisnya. Sekilas, lukisan kaca khas Cirebon mungkin tampak seperti lukisan yang dibingkai dan dilapisi kaca biasa.
Lukisan ini justru dilukis di atas kaca. Berbeda dengan pelukis kaca dari Jateng (Solo) yang biasa melukis di atas kaca dari depan dan mengandaikan kaca layaknya kanvas, pelukis kaca dari Cirebon justru melukis kaca dari belakang. Menggunakan teknik lukis terbalik dengan mechanical pen, lukisan ini memang unik dan membutuhkan keahlian tersendiri. Cat yang digunakan untuk melukis di kaca ini sama seperti cat untuk melukis di media kanvas. Pelukis kaca ini menempatkan semacam kayu panjang di antara lukisannya, untuk menyangga tangannya agar tidak menyentuh lukisan yang baru dipoles.
2.2.        Seni Lukis Kaca Rastika
Rastika bisa digolongkan sebagai salah satu perintis munculnya lukis kaca di Cirebon. Awal-awal tahun 1980-an makin banyak bermunculan pelukis kaca, dan Rastika yang menjadi titik pandang paraseniman lukis kaca di kota itu. Artinya orientasi karya para pelukis kaca mengacu pada karya-karya Rastika. Betapapun karya-karya Rastika lebih rumit, dan membutuhkan kecermatan dalam penggarapan.
Karya lukis kaca waktu itu, menggunakan satu jenis cat cap kuda terbang, dengan warna-warna dasar hitam, putih, biru, dan merah. Tema-tema lukisannya sangat terbatas, pada dunia pewayangan, kuda berkepala perempuan dan Kaligrafi Arab, yang umumnya berbentuk macan ali (macan sebagai simbol Keraton Kasepuhan Cirebon).
Dalam melukiskan wayang pun, terbatas pada wayang kulit, asli wujud wayang kulit yang dipindahkan ke media kaca. Karena melukisnya menggunakan mal maka karya-karya seni lukis kaca bisa secara persis dilukis berulang-ulang. Karena itu pula seni lukis kaca lebih merupakan barang kerajinan, yang bisa digandakan sampai berapa pun.
Pada pertengahan tahun 1980-an muncul tema-tema baru yang mengangkat dari motif-motif batik Trusmi, sebuah wilayah di Cirebon yang merupakan sentra batik. Karya-karya lukis kaca yang kemudian muncul adalah motif-motif dekoratif, dengan gambar Keraton Kasepuhan Cirebon. Pada era ini muncul seniman lukis kaca Umbara Wijayakusuma. Pendeknya pada awal-awal 80-an, tema lukis kaca masih sangat sempit dan berjalan dalam karya itu-itu saja.
Rastika adalah salah satu pelukis kaca yang belajar secara otodidak. Lahir di Cirebon, Jawa Barat tahun 1942, Rastika adalah cucu seorang pengukir keris. Bakatnya telah tampak sejak masih anak-anak, dan minatnya mempelajari motif batik Cirebon yang menyertai tokoh wayang muncul dengan sendirinya. Tahun 60-an Rastika remaja sudah melukis di atas kertas. Dan ketika melihat pelukis kaca senior seperti Maruna, Saji, dan Sudarga, Rastika pun mencoba menekuninya.
(dalamhttp://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/rastika.html)
2.3.    Tema dalam Lukisan Kaca Karya Rastika
Jenis-jenis lukisan kaca Rastika yang mengambil tema wayang, kereta kencana singa barong, paksi naga liman, pola mega mendung, kaligrafi islam, gambar mesjid, bouraq dan sejenisnya. Lukisan kaca sendiri tumbuh di Cirebon dengan cepat tidak hanya sekedar berfungsi sebagai elemen pegangan saja, tapi sudah menyatu dengan tradisi budaya setempat dan sebagai media pengekspresian para pelukisnya sehingga karya mereka berubah menjadi pendokumentasian kehidupan seni budaya sosial keagamaan dan spiritualitas masyarakat Cirebon. (dalam  http://indahartgallery.webs.com/lukisankaca.htm)
Corak gaya apalagi tema terus mengalami pertumbuhan, pembaruan juga pergeseran. Namun berangkat dari satu titik bernama kreatifitas. Kreatif dalam mengolah, menyeleksi, menuangkan ide, mengeksekusi dalam tehnik gambar yang prima, menunjukan lukisan diatas kaca terus mengalami perkembangan. Mungkin tepat dikatakan saat ini muncul semangat revivalitas ( kebangkitan kembali ). Lukisan diatas kaca yang berkembang terengah-engah dan kembang kempis karena kurangnya kegiatan pameran lukisan jenis ini dan minimnya promosi dan apresiasi. justru dibalik selembar kaca ini kita bisa menikmati keelokan garis, warna, dan pola ragam hias yang memukau.
Tema dan gaya lukisan kaca Cirebon dipengaruhi budaya China, Islam dan cerita wayang. Seni tradisi melukis dengan media kaca sebenarnya sudah berkembang beberapa abad yang lalu, dan mengalami perkembangan pasang surut, di mana kemudian para senimannya menemukan beberapa gaya gambar kaca yang khas. Konon lukisan kaca ini berasal dari China yang dibawa oleh para pedagang ke wilayah Cirebon, namun secara pasti tidak ada yang mengetahui sejarahnya.
2.4.  Gaya seni Lukis Kaca Rastika
Dalam lukisan kaca, Rastika mengusung Gaya Dekoratif Klasik. Maestro Lukisan Kaca Cirebon tersebut memiliki kekuatan yang sama dalam penuangan kreatifitasnya, justeru dengan perbedaan pada Gaya yang dianutnya membuat Lukisan Kaca Cirebon terkenal di Nusantara bahkan Mancanegara.
Gaya lukisannya menggabungkan motif wadasan dan mega mendung serta motif naga yang kerap kali muncul pada lukisan kaca Cirebon. Sebelum ia melukis fragmen-fragmen, ia melukis satu objek wayang saja. Dalam mengerjakan lukisan berukuran besar tak jarang ia dibantu oleh pelukis-pelukis lain di antaranya Karwi dan Amir. Cara magang merupakan juga suatu proses regenerasi ketrampilan bagi para pelukis muda.
Karya-karyanya yang menjadi objek koleksi para kolektor dalam dan luar negeri, memberikan kontribusi berupa rangsangan, bagi bertumbuh kembangnya seni lukis kaca di Desa Gegesik. Tercatat adalah seorang Joop Ave dan pelukis Haryadi Suadi, dosen Institut Teknologi Bandung yang menjadi pengagum dan pendorongnya. (dalam http://lukisankacaindonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=235&Itemid=345)
Keunggulan Rastika terletak pada kemahirannya untuk menempatkan objek lukisannya demikian anggun dalam batasan bingkai lukisan. Ia mampu menggambarkan bentuk-bentuk yang luwes, elegan dengan detail-detail yang rumit, kaya, dan indah. Warna-warna pilihannya, memancarkan pula suatu kharisma yang memberikan kesan tenang, tapi ada kalanya juga dapat menggelora. Komposisi warna yang diambil mengacu pada harmoni warna yang dapat dikatakan bernuansa Barat. Hal ini tentunya, adalah sebagai dampak pergaulannya yang luas dengan para akademisi seni rupa.” (Eddy Hadi Waluyo (1991:12)

2.5.     Motif yang digunakan dalam karya seni lukis rastika
Dalam karya seni lukis kaca Rastika lebih banyak menggunakan motif mega mendung dan motif wadasan.
2.5.1.   Motif mega mendung
Motif hias awan dalam sebuah ornamen adalkalanya dikembangkan ddari motif meander. Motif hias demikian sangat dikenal di Cina dan masuk ke Nusantara. Kelokan motif meander yang bersudut siku  atau tajam setelah menjadi motif awan, sudut yang tajam digubah menjadi belokan garis lenkung berlipat. Selain itu motif yang digambarkan berkelok-kelok seperti meander, terdapat pula motif awan hasil pengaruh kesenian Cina, yaitu motif mega mendung yang sangat terkenal di daerah Cirebon. Bentuknya yang khas beraut jajar genjang atau belah ketupat dengan kontur bergelombang atau liukan-liukan bersudut, banyak diterapkan pada batik, sehingga menjadi khas batik cirebon. (Sunaryo, Aryo 2009:173).
Motif mega atau corak awan merupakan motif yang melambangkan langit, terdapat pula sebagai atap pada kereta kencana keraton kanoman. Motif Megamendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai motif dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pecinta batik, begitupula bagi masyarakat pecinta batik di luar negeri. Bukti ketenaran motif Megamendung berasal dari kota Cirebon pernah dijadikan sebagai cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda. Selain itu bapak Rastika pun menggunakan motif mega mendung pada karya lukis kacanya.
Sejarah timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literatur selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk aan dalam beragam budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham Taoisme. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga berpengaruh pada dunia kesenirupaan Islam pada abad 17 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

2.5.2.   Motif wadasan
Menurut Sunaryo, Aryo (2009:173) menyatakan bahwa motif yang mirip motif mega mendung adalah motif hias bebatuan atau tanah bebatuan dikenal dengan motif hias wadasan. Jika pada motif hias mega mendung arah liukan garis dan kontur mendatar, pada motif hias wadasan arah liukan cenderung vertikal dan sering kali dikombinasikan dengan motif tanaman. Sering kali motif hias wadasan ini menggambarkan perbukitan atau gunung yang dipadu dengan unsur tanaman  menjadi motif semacam pemandangan.
Perwujudan batu karang yang merupakan bagian pelengkap pada batik, ukir kayu cirebon, ukir batu di Mantingan Jepara, batik jawa maupun lukis kaca cirebon. (pekan seni dan pariwisata 1991).
Motif hias wadasan adalah istilah Cirebon untuk menyebut motif karang. Adapun istilah untuk menyebut motif karang adalah gunungan. Motif gunungan memiliki makna suci yang mengarah pada gambaran kehidupan di alam baka, sebuah kehiduppan yang kekal abadi. Motif gunungan merupakan motif Indonesia asli yang keberadaannya terus bertahan walaupun penetrasi Hindu dan Islam di Indonesia berifat intensif. Pada saat berlangsungnya pengaruh hindu, motif gunungan digambarkan sebagai gunung Meru tempat bersemayamnya para dewa. Motif wadasan pada kepurbakalaan Islam di Cirebon berfungsi simbolik dan dekoratif.
Fungsi simbolik motif ditunjukkan oleh letak motif tersebut pada bagian utama benda-benda sakral. Pada benda kelompok ideoteknik misalnya motif tersebut berada pada makam-makam keluarga sultan yang bagian utamanya berupa nisan. Pada benda kelompok sosioteknik motif hias wadasan terdapat pada kereta-kereta kerajaan yang bagian utamanya adalah badan kereta, pada kain batik milik kerajaan bagian utamanya adalah motif batik itu sendiri. Adapun pada benda kelompok teknomik motif hias wadasan ini terdapat pada tamansari milik keluarga kerajaan yang bagian utamanya berupa bukit-bukit buatan. Dengan demikian motif hias wadasan sebelum abad 18 Masehi adapat dikatakan berfungsi sebagai simbol status kebangsawanan.



 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBUAT POLA BUSANA DENGAN TEKNIK KONSTRUKSI

Revitalisasi Topeng Cirebon