SENI
RUPA INDONESIA
Latar Belakang
Yang
dimaksud dengan istilah Seni Rupa, Sesungguhnya jangkauannya cukup luas. Hal
itu meliputi seni lukis, seni patung, seni kerajinan, seni grafik,seni ruang,
dan sebagainya. Pada umumnya orang sependapat jika dikatakan bahwa seni rupa
modern mulai, jika para seniman penciptanya
menyadari otonominya sebagai seniman termasuk didalamnya kesadaran akan diri
pribadi sebagai pencipta. Dan ini ditantai oleh Saleh Syarif Bustaman yang
lahir sekitar tahun 1807, apakah benar seperti itu karena, pada masa
prasejarah melukis di panil-panil,
pintu, maupun didalam dinding gua, oleh karena itu dengan adanya pembuatan
kliping ini penulis berusaha memaparkan periodesasi .
1. Masa Perintisan
Raden
Saleh Syarif Bustaman ( Terbaya, 1814
-1880 ), putra keluarga bangsawan pribumi mampu melukis gaya/cara barat (alat,
media dan teknik) yang natural dan romantis. Mendapat bimbingan dari pelukis
Belgia Antonio Payen,pelukis Belanda A. Schelfhouf dan C. Kruseman di Den Haag.
Berkeliling dan pernah tinggal di Negara- Negara Eropa.
Ciri-ciri
karya lukisan Raden Saleh :
·
Bergaya
natural dan romantisme
·
Kuat dalam
melukis potret dan binatang
·
Pengaruh
romantisme Eropa terutama dari Delacroix.
·
Pengamatan
yang sangat baik pada alam maupun binatang.
Karya
Raden Saleh
·
Hutan
terbkar
·
Perkelahian antara hidup dan mati
·
Pangeran
Diponegoro
·
Berburu
Banteng di Jawa
·
Potret
para Bangsawan
2
. Masa Indonesia Jelita (Indie Mooi)
Selanjutnya
muncul pelukis-pelukis muda yang memiliki konsep berbeda dengan masa perintisan, yaitu
melukis keindahan dan keelokan alam
Indonesia. Keadaan ini ditandai pula dengan datangnya para pelukis luar/barat atau sebagian ada
yang menetap dan melukis keindahan alam Indonesia.
Pelukis
Indonesia Molek :
·
Abdullah Suriosubroto (1878-1941)
·
Mas
Pirngadi (1875-1936)
·
Wakidi
·
Basuki
Abdullah
·
Henk
Ngantung, Lee Man Fong (dll)
·
Rudolf
Bonnet (Bld), Walter Spies (Bel), Romuldo Locatelli, Lee
·
Mayer
(Jerman) dan W.G. Hofker.
Ciri-ciri
lukisan :
·
Pengambilan
obyek alam yang indah
·
Tidak
mencerminkan nilai-nilai jiwa merdeka
·
Kemahiran
teknik melukis tidak dibarengi dengan penonjolan nilai spirituil
·
Menonjolkan
nada erotis dalam melukiskan manusia.
RASTIKA SENIMAN LUKIS KACA
Seni lukis kaca merupakan seni lukis yang sangat berbeda
dengan seni lukis yang lain. Seni lukis kaca ini tergolong unik sebab dalam
proses pembuatan karya yang dilukis secara terbalik. Dalam karya lukis kaca
biasanya menampilkan ragam hias motif mega mendung dan wadasan yang biasanya
dikenal sebagai motif batik Cirebon, dengan gradasi warna yang sangat harmonis
dan bernuansa dekoratif. Seni lukis kaca berkembang dan dikenal sebagai produk
budaya yang sarat dengan kebudayaan khas Indonesia khususnya Kota Cirebon.
Seni lukis kaca pernah menggejala di Eropa pada abad ke
17. Sedangkan di negara barat lukisan kaca menyebar sampai kedaratan timur,
bahkan sampai ke Asia Tenggara. Diantara seni lukis kaca dari Jepang dan Cina
yang lebih meninjol adalah ciri datar, ciri ini yang akhirnya berkembang di
Indonesia. (Pekan Pariwisata Cirebon 1991:17).
Pada tahun 1980-an banyak bermunculan pelukis kaca, salah
satunya adalah Rastika. Rastika adalah salah satu pelukis kaca yang belajar
secara otodidak. Di masa itu para seniman lukis kaca mengacu pada karya-karya
Rastika walaupun karya-karya Rastika lebih rumit dan membutuhkan kecermatan
dalam pembuatanya.
Keunggulan Rastika terletak pada kemahirannya untuk
menempatkan objek lukisannya demikian anggun dalam batasan bingkai lukisan. Ia
mampu menggambarkan bentuk-bentuk yang luwes, elegan dengan detail-detail yang
rumit, kaya, dan indah. Warna-warna pilihannya, memancarkan pula suatu kharisma
yang memberikan kesan tenang, tapi ada kalanya juga dapat menggelora. Komposisi
warna yang diambil mengacu pada harmoni warna.
2.1.1. Sejarah Seni lukis Kaca
Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal
di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pulau Jawa. Pada
masa pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal
sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan berupa
Lukisan Kaca Wayang. Pengaruh Islam yang disebarkan oleh para wali juga menjadi
ciri khas dari lukisan kaca Cirebon. Bahkan setelah pengaruh China,
gambar-gambar yang dihasilkan seniman tradisional selalu berhubungan dengan
Islam seperti gambar kabah, masjid dan kaligrafi berisi ayat-ayat Alquran atau
Hadis.
Adapun pengaruh cerita wayang berasal dari pertunjukan
wayang yang diperagakan para wali untuk menyebarkan agama Islam. Kuatnya
kepercayaan tokoh wayang yang baik, membuat para pengrajin lukisan kaca selalu
menampilkan tokoh seperti Kresna, Arjuna, Rama, Lesmana, dan lain-lain. Sejak
itu lukisan kaca dikenal orang sebagai media dakwah dengan munculnya Lukisan Kaca
Kaligrafi Islam, di mana pada setiap lukisan kaca akan banyak ditemui tulisan
yang berasal dari cuplikan Ayat Al Qur’an dan Hadist.(Adeng, dkk 1998:160).
Semakin lama Lukisan Kaca Cirebon semakin berkembang
dengan keragaman objek yang ditampilkan, objek Wayang dan objek Batikan makin
mewarnai desain Lukisan Kaca Cirebon. Pada abad ke-19, lukisan kaca Cirebon
cenderung mengambil tema wayang, kereta singa barong, paksi naga liman, pola
mega mendung, kaligrafi Islam, gambar masjid, buroq, dan sejenisnya. Sekilas,
lukisan kaca khas Cirebon mungkin tampak seperti lukisan yang dibingkai dan
dilapisi kaca biasa.
Lukisan ini justru dilukis di atas kaca. Berbeda dengan
pelukis kaca dari Jateng (Solo) yang biasa melukis di atas kaca dari depan dan
mengandaikan kaca layaknya kanvas, pelukis kaca dari Cirebon justru melukis
kaca dari belakang. Menggunakan teknik lukis terbalik dengan mechanical pen,
lukisan ini memang unik dan membutuhkan keahlian tersendiri. Cat yang digunakan
untuk melukis di kaca ini sama seperti cat untuk melukis di media kanvas.
Pelukis kaca ini menempatkan semacam kayu panjang di antara lukisannya, untuk
menyangga tangannya agar tidak menyentuh lukisan yang baru dipoles.
2.2.
Seni
Lukis Kaca Rastika
Rastika bisa digolongkan sebagai salah satu perintis
munculnya lukis kaca di Cirebon. Awal-awal tahun 1980-an makin banyak
bermunculan pelukis kaca, dan Rastika yang menjadi titik pandang paraseniman
lukis kaca di kota itu. Artinya orientasi karya para pelukis kaca mengacu pada
karya-karya Rastika. Betapapun karya-karya Rastika lebih rumit, dan membutuhkan
kecermatan dalam penggarapan.
Karya lukis kaca waktu itu, menggunakan satu jenis cat
cap kuda terbang, dengan warna-warna dasar hitam, putih, biru, dan merah.
Tema-tema lukisannya sangat terbatas, pada dunia pewayangan, kuda berkepala
perempuan dan Kaligrafi Arab, yang umumnya berbentuk macan ali (macan sebagai
simbol Keraton Kasepuhan Cirebon).
Dalam melukiskan wayang pun, terbatas pada wayang kulit,
asli wujud wayang kulit yang dipindahkan ke media kaca. Karena melukisnya
menggunakan mal maka karya-karya seni lukis kaca bisa secara persis dilukis
berulang-ulang. Karena itu pula seni lukis kaca lebih merupakan barang
kerajinan, yang bisa digandakan sampai berapa pun.
Pada pertengahan tahun 1980-an muncul tema-tema baru yang
mengangkat dari motif-motif batik Trusmi, sebuah wilayah di Cirebon yang
merupakan sentra batik. Karya-karya lukis kaca yang kemudian muncul adalah
motif-motif dekoratif, dengan gambar Keraton Kasepuhan Cirebon. Pada era ini muncul
seniman lukis kaca Umbara Wijayakusuma. Pendeknya pada awal-awal 80-an, tema
lukis kaca masih sangat sempit dan berjalan dalam karya itu-itu saja.
Rastika adalah salah satu pelukis kaca yang belajar
secara otodidak. Lahir di Cirebon, Jawa Barat tahun 1942, Rastika adalah cucu
seorang pengukir keris. Bakatnya telah tampak sejak masih anak-anak, dan
minatnya mempelajari motif batik Cirebon yang menyertai tokoh wayang muncul
dengan sendirinya. Tahun 60-an Rastika remaja sudah melukis di atas kertas. Dan
ketika melihat pelukis kaca senior seperti Maruna, Saji, dan Sudarga, Rastika
pun mencoba menekuninya.
(dalamhttp://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/rastika.html)
2.3. Tema dalam Lukisan Kaca Karya Rastika
Jenis-jenis lukisan kaca Rastika yang mengambil tema wayang,
kereta kencana singa barong, paksi naga liman, pola mega mendung, kaligrafi
islam, gambar mesjid, bouraq dan sejenisnya. Lukisan kaca sendiri tumbuh di
Cirebon dengan cepat tidak hanya sekedar berfungsi sebagai elemen pegangan
saja, tapi sudah menyatu dengan tradisi budaya setempat dan sebagai media
pengekspresian para pelukisnya sehingga karya mereka berubah menjadi
pendokumentasian kehidupan seni budaya sosial keagamaan dan spiritualitas
masyarakat Cirebon. (dalam
http://indahartgallery.webs.com/lukisankaca.htm)
Corak gaya apalagi tema
terus mengalami pertumbuhan, pembaruan juga pergeseran. Namun berangkat dari
satu titik bernama kreatifitas. Kreatif dalam mengolah, menyeleksi, menuangkan
ide, mengeksekusi dalam tehnik gambar yang prima, menunjukan lukisan diatas
kaca terus mengalami perkembangan. Mungkin tepat dikatakan saat ini muncul
semangat revivalitas ( kebangkitan kembali ). Lukisan
diatas kaca yang berkembang terengah-engah dan kembang kempis karena kurangnya
kegiatan pameran lukisan jenis ini dan minimnya promosi dan apresiasi. justru
dibalik selembar kaca ini kita bisa menikmati keelokan garis, warna, dan pola
ragam hias yang memukau.
Tema dan gaya lukisan kaca
Cirebon dipengaruhi budaya China, Islam dan cerita wayang. Seni tradisi melukis
dengan media kaca sebenarnya sudah berkembang beberapa abad yang lalu, dan
mengalami perkembangan pasang surut, di mana kemudian para senimannya menemukan
beberapa gaya gambar kaca yang khas. Konon lukisan kaca ini berasal dari China
yang dibawa oleh para pedagang ke wilayah Cirebon, namun secara pasti tidak ada
yang mengetahui sejarahnya.
2.4. Gaya
seni Lukis Kaca Rastika
Dalam lukisan kaca, Rastika mengusung Gaya Dekoratif
Klasik. Maestro Lukisan Kaca Cirebon tersebut memiliki kekuatan yang sama dalam
penuangan kreatifitasnya, justeru dengan perbedaan pada Gaya yang dianutnya
membuat Lukisan Kaca Cirebon terkenal di Nusantara bahkan Mancanegara.
Gaya lukisannya menggabungkan motif wadasan dan mega
mendung serta motif naga yang kerap kali muncul pada lukisan kaca Cirebon.
Sebelum ia melukis fragmen-fragmen, ia melukis satu objek wayang saja. Dalam
mengerjakan lukisan berukuran besar tak jarang ia dibantu oleh pelukis-pelukis
lain di antaranya Karwi dan Amir. Cara magang merupakan juga suatu proses
regenerasi ketrampilan bagi para pelukis muda.
Karya-karyanya yang menjadi objek koleksi para kolektor
dalam dan luar negeri, memberikan kontribusi berupa rangsangan, bagi bertumbuh
kembangnya seni lukis kaca di Desa Gegesik. Tercatat adalah seorang Joop Ave
dan pelukis Haryadi Suadi, dosen Institut Teknologi Bandung yang menjadi
pengagum dan pendorongnya. (dalam
http://lukisankacaindonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=235&Itemid=345)
Keunggulan Rastika terletak pada kemahirannya untuk
menempatkan objek lukisannya demikian anggun dalam batasan bingkai lukisan. Ia
mampu menggambarkan bentuk-bentuk yang luwes, elegan dengan detail-detail yang
rumit, kaya, dan indah. Warna-warna pilihannya, memancarkan pula suatu kharisma
yang memberikan kesan tenang, tapi ada kalanya juga dapat menggelora. Komposisi
warna yang diambil mengacu pada harmoni warna yang dapat dikatakan bernuansa
Barat. Hal ini tentunya, adalah sebagai dampak pergaulannya yang luas dengan
para akademisi seni rupa.” (Eddy Hadi Waluyo (1991:12)
2.5. Motif yang digunakan dalam karya seni lukis
rastika
Dalam
karya seni lukis kaca Rastika lebih banyak menggunakan motif mega mendung dan
motif wadasan.
2.5.1. Motif mega mendung
Motif hias awan dalam sebuah ornamen adalkalanya
dikembangkan ddari motif meander.
Motif hias demikian sangat dikenal di Cina dan masuk ke Nusantara. Kelokan
motif meander yang bersudut siku atau tajam setelah menjadi motif awan, sudut
yang tajam digubah menjadi belokan garis lenkung berlipat. Selain itu motif
yang digambarkan berkelok-kelok seperti meander,
terdapat pula motif awan hasil pengaruh kesenian Cina, yaitu motif mega mendung
yang sangat terkenal di daerah Cirebon. Bentuknya yang khas beraut jajar
genjang atau belah ketupat dengan kontur bergelombang atau liukan-liukan bersudut,
banyak diterapkan pada batik, sehingga menjadi khas batik cirebon. (Sunaryo,
Aryo 2009:173).
Motif mega atau corak awan merupakan motif yang
melambangkan langit, terdapat pula sebagai atap pada kereta kencana keraton
kanoman. Motif Megamendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai motif
dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pecinta batik,
begitupula bagi masyarakat pecinta batik di luar negeri. Bukti ketenaran motif
Megamendung berasal dari kota Cirebon pernah dijadikan sebagai cover sebuah
buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design karya Pepin Van
Roojen bangsa Belanda. Selain itu bapak Rastika pun menggunakan motif mega
mendung pada karya lukis kacanya.
Sejarah timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh
masyarakat Cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literatur selalu
mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon.
Tercatat dengan jelas dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong
Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China
diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk aan
dalam beragam budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham
Taoisme. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna
transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga berpengaruh pada dunia
kesenirupaan Islam pada abad 17 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan
dunia besar atau alam bebas.
2.5.2. Motif wadasan
Menurut Sunaryo, Aryo (2009:173) menyatakan bahwa motif
yang mirip motif mega mendung adalah motif hias bebatuan atau tanah bebatuan
dikenal dengan motif hias wadasan. Jika pada motif hias mega mendung arah
liukan garis dan kontur mendatar, pada motif hias wadasan arah liukan cenderung
vertikal dan sering kali dikombinasikan dengan motif tanaman. Sering kali motif
hias wadasan ini menggambarkan perbukitan atau gunung yang dipadu dengan unsur
tanaman menjadi motif semacam
pemandangan.
Perwujudan batu karang yang merupakan bagian pelengkap
pada batik, ukir kayu cirebon, ukir batu di Mantingan Jepara, batik jawa maupun
lukis kaca cirebon. (pekan seni dan pariwisata 1991).
Motif hias wadasan adalah istilah Cirebon untuk menyebut
motif karang. Adapun istilah untuk menyebut motif karang adalah gunungan. Motif
gunungan memiliki makna suci yang mengarah pada gambaran kehidupan di alam
baka, sebuah kehiduppan yang kekal abadi. Motif gunungan merupakan motif
Indonesia asli yang keberadaannya terus bertahan walaupun penetrasi Hindu dan
Islam di Indonesia berifat intensif. Pada saat berlangsungnya pengaruh hindu,
motif gunungan digambarkan sebagai gunung Meru tempat bersemayamnya para dewa.
Motif wadasan pada kepurbakalaan Islam di Cirebon berfungsi simbolik dan
dekoratif.
Fungsi simbolik motif ditunjukkan oleh letak motif
tersebut pada bagian utama benda-benda sakral. Pada benda kelompok ideoteknik
misalnya motif tersebut berada pada makam-makam keluarga sultan yang bagian
utamanya berupa nisan. Pada benda kelompok sosioteknik motif hias wadasan
terdapat pada kereta-kereta kerajaan yang bagian utamanya adalah badan kereta,
pada kain batik milik kerajaan bagian utamanya adalah motif batik itu sendiri.
Adapun pada benda kelompok teknomik motif hias wadasan ini terdapat pada
tamansari milik keluarga kerajaan yang bagian utamanya berupa bukit-bukit
buatan. Dengan demikian motif hias wadasan sebelum abad 18 Masehi adapat
dikatakan berfungsi sebagai simbol status kebangsawanan.
Komentar
Posting Komentar